Interview Mangaka Gintama,Sorachi Hideaki [bagian 1]

 http://japanesestation.com/wp-content/uploads/2013/05/gorilla-baby-name-mangaka-gintama1.jpg
Setelah kemarin saya post tentang Fakta Dan Info Sorachi Hideaki, Kesempatan kali ini saya juga akan memberikan informasi tentang Gorila eh maksudnya tentang mangaka Gintama kesayangan kita. Kali ini saya akan mengutip salah satu Interview yang bisa dibilang cukup penting dari Mangaka Gintama, Sorachi-sensei.  Baca wawancara ini jadi sedikit lebih paham bagaimana sebenarnya Gintama di mata Sorachi Ada 30 pertanyaan di sini tapi karena kepanjangan jadi dibagi dua aja. Ini bagian pertamanya. Yang bagian kedua klik disini
original link: http://www.yorozuyasoul.com

Hideaki Sorachi Quick Japan 2009 Interview

01. Saya ucapkan selamat untuk manga Gintama yang sudah mencapai volume 30! Anda pernah mengatakan bahwa Anda akan mengakhiri manga Gintama setelah mencapai vol. 30, tetapi sepertinya Gintama masih akan terus berlanjut. Silakan komentar Anda.
Terima kasih kepada semua pembaca yang terus mendukung saya. Itu kesimpulan saya. Sudah lama saya ingin diwawancarai oleh Quick Japan, dan sekarang sudah terwujud, saya bisa mengakhiri Gintama tanpa ada penyesalan. Sungguh suatu ending yang indah.

02. Gintama mengambil materi futuristic (sci fi) yang disajikan dari sudut pandang sejarah (drama historical). Serial ini juga dipenuhi dengan kejadian-kejadian dari masa sekarang, dan tokoh utamanya juga melakukan bemacam-macam pekejaan. Apakah Anda befikir ‘semuanya mungkin’ ketika menggambar?
Ketika saya masih dalam proses serialisasi, editor saya menyarankan agar saya menggambar tentang drama Taiga “Shinsengumi”, tetapi masalah yang ada ketika membuat cerita tentang sejarah (historical fiction) adalah hal-hal yang dapat saya tulis sangat terbatas karena ini menyangkut sejarah. Saya tidak bisa memasukan kejadian-kejadian yang terjadi saat ini ke dalam cerita, dan Shimura Ken juga belum ada pada masa itu. Saya tidak akan bisa menggunakan istilah-istilah seperti ‘Mati Gue!’ . Keterbatasan ini seolah-olah memotong sayap kebebasan kreativitas saya dan ujung-ujungnya pasti saya akan bilang ‘Mati Gue!’. Dengan membuat setting cerita di era Bakumatsu dan mengubah orang asing menjadi alien memungkinkan saya untuk menciptakan sebuah dunia gila dimana saya bisa menggunakan fakta sejarah dan kejadian di masa sekarang sekaligus. Tapi bukan berarti saya sengaja mebuat seperti ini. Ini terjadi begitu saja.

03. Ide cerita dimana ‘semuanya mungkin’, apa yang menyenangkan tentang ini dan apa yang sulit tentang ini?
Seperti yang dikatakan, semuanya mungkin, jadi sisi positifnya adalah tidak ada batasan. Saya bisa menggambar apapun yang saya inginkan, membuat saya selalu bersemangat. Tapi susahnya adalah juga karena semuanya mungkin terjadi saya harus mulai dari awal setiap kali saya mendapat ide cerita baru. Hal ini sangat melelahkan.

04. Apa yang menarik dari Shinsengumi dan era Bakumatsu?
Saya selalu ingin menangis ketika mengingat Shinsengumi. Para pemuda dari kalangan bawah dan berandalan bergabung ke dalam neraka ini, mencoba untuk menjadi samurai di saat era kehancuran samurai. Mereka ibarat celana jeans yang lusuh. Anda bilang, “Yang seperti itu sudah bukan fashion, tidak ada orang yang akan mau memakainya,” tapi orang-orang dari kampung itu tetap tidak mengerti dan terus memakainya. Mereka bahkan berkumpul bersama seperti sekawanan lebah dan membuat kaos sendiri dengan menambahkan motif gunung di bagian lengan. Mungkin terlihat keren, tapi bagaimanapun jeans yang terlalu lusuh, bahannya sangat rapuh dan pada akhirnya mereka akan robek menjadi dua. Saya ingin tertawa sekaligus ingin menangis ketika dihadapkan dengan orang-orang seperti mereka. Tetapi saya suka orang-orang emosional seperti mereka.
Mengenai periode historis yang menjadi saksi perubahan besar, seperti era Bakumatsu atau Sengoku, disitulah kita bisa melihat sisi kemanusiaan saat dihadapkan pada kondisi yang ekstrim. Keadaan ini bisa menunjukan sisi baik dan buruk manusia. Saya sangat menyukainya.

05. Anda tidak memfokuskan cerita pada masa pergerakan Joui yang ingin mengubah negara. Anda malah mefokuskan cerita pada masa setelah semuanya berakhir. Mengapa?
Memang benar Gintama melakukan banyak hal gila, tapi sebenarnya saya mencoba menyajikan ide/kriteria seorang samurai yang ideal versi saya melalui manga ini, walaupun mungkin banyak yang tidak sependapat (tertawa). Ketika kita bicara soal samurai, otomatis kita juga harus membicarakan tentang “bushido” (jalan/ajaran prajurit). Menurut saya, akan lebih baik jika mengilustrasikan bushido di sebuah dunia dimana bushido sudah punah (tidak diterapkan lagi). Dengan cara ini kita akan lebih dapat memfokuskan ke eksistensinya. Selain itu, jika menulis cerita dengan menyisipkan aspek ‘kesetiaan seseorang kepada tuannya’, mungkin tidak akan terlalu sampai pada pembaca. Jadi lebih baik tidak-setengah-setengah. Yang disebut bushido adalah “sesuatu yang seharusnya kita lakukan”, semacam nilai/tata krama, dan sesuatu yang bisa dipunyai oleh siapapun. Para samurai itu kalah dalam perang, dan mereka tidak punya tuan atau hal-hal untuk mereka lindungi lagi. Mereka pengangguran, tidak punya uang, mereka berada di titik nadir kehidupan mereka, dan bukan saatnya mereka untuk tetap bertingkah sok jagoan. Walaupun begitu mereka harus terus hidup. Hal-hal semacam inilah yang saya pikirkan.
Ketika saya menunjukan Gintama untuk pertama kalinya ke para editor, mereka bilang, “Orang ini benar-benar salah paham soal arti bushido.” (tertawa) Yah, jika memang ini sebuah kesalahpahaman, ya berarti ini sebuah kesalahpahaman. Itulah prinsip bushido di zaman sekarang, you bastard.

06. Dia nihilistik tapi dia juga romantis. Dari luar dia terlihat dingin, tapi jiwanya panas membara. Bagaimana sebenarnya Anda menciptakan sang tokoh utama, Sakata Gintoki?
Editor saya menyarankan untuk ‘membuat cerita tentang Shinsengumi’ dan saya juga memang fans dari “Burn, O Sword”, makanya saya ingin sekali membuat Hijikata sebagai tokoh utama. Salah satu cara yang paling mudah untuk memusatkan perhatian kepada salah satu anggota dalam sebuah grup adalah dengan membuat anggota-anggota lainnya tidak menarik dan gampang dilupakan. Tapi saya sangat suka Shinsengumi sehingga pada akhirnya saya malahan membuat semua tokohnya jadi aneh. Walalupun kerja sama antara sesama orang aneh itu bisa saja terjadi, tapi ceritanya jadi akan terpusat pada grup itu.
Saya tidak ingin membuat cerita seperti itu. Saya seperti seorang anak SD yang ingin gambar hasil corat-coretnya di tempat pensil menjadi karya seni yang hebat. (tertawa) Saya ingin tokoh utama yang kuat. Saya tidak bisa membuatnya menjadi bagian dari sebuah organisasi jadi saya ubah desainnya. Saya menciptakan seseorang yang mandiri dan dia juga orang yang tidak terlalu menomor satukan aturan. Setelah itu saya masukan sifat-sifat yang saya kagumi dari orang-orang sekitar saya dan menggabungkan semuanya. Seingat saya, sifat-sifatnya menjadi jelas ketika saya menamainya “Gin-san”.

07. Bagaimana dengan Shinpachi? Karakter yang karakteristiknya hampir mirip dengan Nobita dan menjadikan Gin-san sebagai panutannya?
Shinpachi adalah tolak ukur di Gintama, jadi desainnya sangat standar. Sebetulnya, dia malah sedikit di bawah standar. Dia adalah sudut pandang pembaca, jadi saya tidak bisa membuatnya menjengkelkan di mata mereka. Bagaimanapun, dia tidak bisa mengungguli pembaca (tertawa). Dia juga tidak boleh sangat lemah, jadi dia akan berjuang jika keadaan mengharuskan. Tapi setiap kali dia bertarung, akan selalu ada perubahan kecil pada karakternya, jadi mungkin sekarang dia sudah ada di atas standar.

08. Lalu bagaimana dengan Kagura, tokoh perempuan pertama yang muntah di layar kaca dan menambahkan ‘aru’ di setiap akhir kalimatnya; sesuatu hal yang historis namun sekaligus membawa angin segar?
Saya takut dengan tokoh utama perempuan yang berakting cute dan tidak natural. Jika melihat yang seperti itu saya selalu merasa kesal dan berteriak, “Tidak mungkin ada orang yang seperti itu!” (tertawa). Jadi, pada dasarnya, saya mengembangkan desain dari sudut pandang ‘anti tokoh utama perempuan’. Membuatnya muntah merupakan sebuah tantangan. Saya ingin menciptakan tokoh utama perempuan yang walaupun muntah tapi orang tetap menganggap dia menggemaskan. Saya tidak banyak berpikir dan membuat dia muntah saja dulu. Kalo diibaratkan ini seperti saya memborgol tangan saya dan memikirkan konsekuensinya nanti saja. Tapi kemudian saya menyadari kalau tidak mungkin ada juga [orang yang muntah dan masih dianggap cute].

09. Karakter di Gintama sangat banyak. Hal apa yang anda perhatikan ketika menciptakan karakter baru?
Saya lebih memfokuskan kepada kekurangan mereka daripada kelebihannya. Karena menurut saya orang yang tidak sempurna (punya kekurangan) itu lebih atraktif.

10. Jika dibandingkan dengan semangat tim di One Piece dan semangat persahabatan di Naruto, Yorozuya di Gintama lebih dipenuhi dengan semangat kekeluargaan. Suasana dimana mereka menerima orang-orang yg lemah dan semuanya berhubungan sangatlah menghangatkan hati. Apakah ini tujuan Anda, untuk menciptakan semacam utopia?
Saya sering mendengar kalau Gintama memperlakukan para pecundang dengan baik. Banyak yang berpikiran seperti ‘seseorang yang gagal seperti saya pun masih bisa terus bertahan ketika saya membaca manga ini’. Tapi bukan maksud saya sengaja merangkul para pecundang. Saya juga sering dengar kalau hal ini karena saya sendiri juga adalah seorang pecundang. Ya, baiklah, terserah. Tapi kalau boleh jujur, menurut saya semua orang itu pecundang. Yang membedakan hanyalah topeng yang kita pakai. Sekali topeng itu terbuka dan kita lihat ke dalam diri masing-masing, semua orang sama saja. Orang-orang sukses, yang disebut sebagai ‘bukan pecundang’, mereka hanya memakai topeng yang lebih cantik. Mereka lebih pandai dalam berakting.
Walaupun begitu, jika topeng mereka yang cantik itu, atau kemampuan berakting mereka adalah hasil kerja keras mereka dalam mengakui dan memperbaiki kelemahan mereka agar bisa meningkatkan kualitas hidup mereka, mengukir jati diri mereka dan berusaha mewujudkannya, maka saya akui saya sangat mengaggumi orang-orang seperti itu.
Tapi tetap saja, secantik apapun topengnya, pasti akan rusak. Di saat itulah kita akan dapat mengintip ke dalam jiwa dan melihat bahwa sebenarnya mereka tetaplah pecundang. Itu yang saya sukai. Itu hal yang manusiawi. Untuk saya, semua karakter di Gintama hanya menggabungkan semua aspek pecundang tersebut dan menunjukannya untuk dilihat dunia. Semua karakter di Gintama itu sama sekali bukan pecundang. Mereka orang-orang yang hebat. (tertawa)
Jadi, jika ini mencerminkan dunia utopia saya, maka di dunia ini para pecundang tersebut menghadapi sisi terburuk jiwa mereka sendiri sekaligus perasaan-perasaan negatif, dan menjadikan kedua hal tersebut sebagai topik pembicaraan mereka, yang didiskusikan dengan senyuman dan untuk ditertawakan bersama-sama dengan teman. Ya, pokoknya seperti itu.

11. Di Gintama, istilah yang sering muncul bukanlah ‘untuk mewujudkan mimpi’, ‘untuk mencapai tujuan’, atau ‘untuk menang’ melainkan ‘untuk melindungi’. Tidak ada tujuan pasti untuk masa depan. Sebenarnya apa alasan dibalik pemilihan tema ‘untuk melindungi sesuatu’ tersebut?
Sejujurnya, saya juga ingin menulis sebuah tujuan untuk masa depan di Gintama. Tapi ketika saya memikirkannya lebih jauh, cerita ini tidak mengizinkan saya untuk menentukan hal-hal seperti ‘mimpi’ dan ‘harapan’. Istilah-istilah seperti ‘untuk mencapai tujuan’ atau ‘untuk menang’ seperti ini membutuhkan tokoh utama yang ‘berubah’, tapi di Gintama kebalikannya. Gintama adalah cerita dimana tokoh utamanya ‘tidak berubah’.
Setelah invasi amanto, banyak hal lama yang hilang dan banyak hal baru bermunculan. Di masa perubahan ini, hal terakhir yang tidak bisa berubah, tidak boleh berubah. Hal inilah yang mungkin membawa cerita kepada tema ‘melindungi sesuatu’.

12. Jika sebuah gag manga menjadi serius, biasanya akan susah lagi kembali ke humor. Kenapa Gintama bisa dengan mudahnya bolak-balik antara komedi dan serius?
Itu karena saya cepat bosan dengan hal yang monoton. Selain itu, saya pribadi tidak pernah memperlakukan Gintama sebagai gag manga. Para penulis gag manga adalah mereka-mereka yang akan tertawa dan menangis bagaimanapun sulitnya keadaan mereka, seperti Usuta Kyousuke-sensei dan Ooishi Kouji-sensei. Saya hanya seorang mangaka kacangan yang menggambar apapun yang dia suka seenaknya.
Kesimpulannya, Gintama bisa dibilang campuran antara serius dan komedi. Saya tidak terlalu memikirkannya sih. Saya hanya berandal yang bertindak seenaknya.

13. Kenapa Gintama bisa sangat lucu? Apa pertimbangan Anda ketika menggambar cerita komedi?
Penjelasan murahannya (tertawa) adalah semakin konyol sesuatu, kita harus semakin serius. Saya selalu berusaha untuk tidak membuat sesuatu terlalu cute, dan jika anda tertawa ketika bertingkah konyol, tidak akan terlalu lucu rasanya. Jadi sebisa mungkin, saya membuat karakter bertingkah sewajarnya ketika dalam situasi konyol walaupun mereka harus berbohong.

14. Silakan beritahu tentang komedi favorit Anda (manga, pembawa acara, acara TV). (Sorachi-sensei berasal dari Hokkaido. Apakah Anda menonton acara ‘How Do You Like Wednesday’?)
Saya suka semua variety show. The Drifters dan Tunnel dan Downtown, saya pasti menontonnya kalau ada waktu. Untuk orang-orang seumuran saya, acara Downtown itu legenda. Bahkan para ketua kelas dari smp saya pasti membaca Isho karya Matchan.
Dan juga ada siaran radio tengah malam yang selalu saya dengarkan saat saya begadang untuk belajar. Seperti acara Akashi Eichiiro ‘Attack Young’, walaupun sepertinya tidak akan ada yang tahu tentang acara ini sekarang (tertawa). Akashi adalah penyiar dari Hokkaido. Di siang hari, dia hanyalah seorang paman biasa yang memakai kaca mata dan membaca koran. Di malam hari, dia menjadi sangat mesum dan suka mengoleksi rambut xxx dari para pendengarnya. Saya suka mendengarkannya, dan ini juga menjadi inspirasi untuk taktik kotor/cerita kotor saya. Oizumi You dari acara ‘How Do You Like Wednesday’ juga adalah bintang dari Hokkaido, tapi untuk saya Akashi-san lah yang menjadi matahari Hokkaido.

15. Kenapa Gintama bisa membuat pembaca menangis? Apa yang jadi pertimbangan Anda saat menggambar cerita serius dan emosional?
Itu mungkin karena saya menggambar sambil menangis (tertawa). Air mata adalah air mata, tapi saya tidak mau mengeluarkan air mata yang tidak proaktif. Perasaan seperti ‘Ahhh, ini sangat meyedihkan’ ketika melihat orang meninggal dan kemudian hilang begitu saja, bukan perasaan yang saya cari. Walaupun banyak karakter yang mati di Gintama (tertawa). Walaupun seseorang mati, tapi itu bukanlah akhir dari segalanya. Saya tidak mau mengeluarkan air mata yang hanya mengalir dan jatuh di satu tempat saja. Yang saya inginkan adalah butiran-butiran air mata yang menetes sepanjang perjalanan seseorang menuju masa depannya.
Untuk Bagian 2 klik disini

Disqus Comments